DESA TANGKIT BARU

Terima kasih anda telah berkunjung di forum " Desa Tangkit Baru " silahkan melakukan registrasi atau masuk menggunakan akun facebook.

Keuntungan registrasi :
~ Anda bisa berkomentar.
~ Membuat topik dan membalas topik.
~ Melihat video dan gambar.
~ Dan tanya jawab

Salam fada idi`
Cucu Fetta Fuang
DESA TANGKIT BARU

AMAN KOMPAK TERTIP INDAH PRODUKTIF

Photobucket Photobucket Photobucket

google+

TAITA WETTUWE

TANGGLA’ IYEWE ULENGNGE

Powered by Forum TangkitBaru

    Keemasan Patin Jambi Cerita Lalu

    Share

    Cucu Fetta Fuang
    Admin

    Jumlah posting : 234
    Bergabung : 24.06.12
    Umur : 31
    Lokasi : Tangkit baru, jambi, indonesia

    Keemasan Patin Jambi Cerita Lalu

    Post  Cucu Fetta Fuang on 20/07/12, 05:18 pm

    Rabu, 17 Februari 2010 | 02:24 WIB

    Menyusuri Desa Tangkit Baru di Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, kita akan menyaksikan kegairahan petani patin siam. Sepanjang mata memandang, hamparan kolam patin terbentang, menanti dipanen. Mobil angkutan bak terbuka hilir mudik membawa hasil panen ke luar desa.

    Namun, itu cerita empat tahun lalu. Kegairahan tersebut hilang seiring jatuhnya harga jual patin di tingkat petani. Dua tahun terakhir, harga patin jatuh menjadi Rp 7.000-Rp 7.500 dari Rp 12.000-Rp 12.500 per kilogram.

    Petani yang masih menebar patin bisa dipastikan merugi karena harga jual berada di bawah biaya produksi. ”Terakhir kali saya panen empat bulan lalu, 12 kolam. Saya rugi Rp 42 juta. Habis sudah usaha ini,” kata Ketua Kelompok Mina Sukses Baso Patolai, Rabu (10/2).

    Jatuhnya harga panen menyebabkan sebagian besar petani enggan memelihara patin. Akibatnya, volume produksi patin di Desa Tangkit merosot hingga 80 persen lebih.

    Kini, dari 2.300 kolam, yang masih berisi patin tinggal 300 kolam. Yang lain dibiarkan kosong sehingga dipenuhi eceng gondok dan semak belukar.

    Janji pemerintah

    Dulu petani sangat antusias ketika pemerintah hendak mengembangkan perikanan patin. Sawah dan perkebunan berganti menjadi kolam atas bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jambi. Petani terobsesi membuka kolam sebanyak-banyaknya karena diiming- imingi harga panen yang sangat menguntungkan.

    Memang betul, untung yang bisa diperoleh petani saat itu Rp 12 juta-Rp 15 juta per kolam. Jika satu orang memiliki 10 kolam, bisa dihitung uang yang mereka peroleh setiap panen.

    Pemerintah terus menggenjot produksi melalui pembukaan kolam patin di banyak tempat dan menjanjikan hasil panen akan diserap industri hilir. Nyatanya, hingga kini tak satu industri pun menampung hasil panen petani. Satu-satunya pabrik yang beroperasi tahun 2007 malah tutup setahun kemudian.

    Pemerintah juga sempat menggandeng PT Bonecom, perusahaan penangkapan dan pengolahan ikan nasional. Bonecom rencananya akan membangun industri pengolahan ikan patin jambal yang integratif, mulai dari perbenihan, penyediaan pakan, pengolahan, hingga pemasaran. Produksinya tidak hanya berupa pengalengan, tetapi juga surimi. Investasi awal disebutkan 2,3 juta dollar AS, tetapi perusahaan ini ternyata tidak beroperasi.

    Kelebihan produksi pun terjadi. Harga benih dan pakan ikan naik, sedangkan harga panen terus merosot. Di Kota Jambi saja, produksi benih patin mencapai 56 juta ekor, sedangkan kebutuhan hanya setengahnya. Karena khawatir tak terbeli, banyak pemilik usaha mengobral benih hingga setengah harga.

    Banyak pembenih dan pendeder yang gulung tikar karena benih tak terserap lagi. Jumlah pembenih dan pendeder kini tinggal 20 persen. ”Sebelumnya ada 200 orang yang beroperasi, sekarang 40 orang,” kata Achmadal, Ketua Asosiasi Masyarakat Perbenihan Ikan Jambi.

    Pengamat ekonomi dari Universitas Batanghari, Pantun Bukit, mengatakan, pemerintah semestinya jangan hanya menggenjot produksi. Yang tak kalah penting adalah membuka pasar untuk menampung hasil panen. Lebih baik lagi jika industri hilir dapat dikembangkan sehingga nilai jual menjadi lebih tinggi.

    Kepala DKP Jambi Herman Suherman menyadari terjadinya kelebihan produksi ikan patin. Ia berjanji akan berupaya membuka pasar melalui pembangunan industri hilir.

    Tahun ini, sejumlah daerah, seperti Riau, tengah mengembangkan satu juta keramba untuk pengembangan komoditas yang sama. Sumatera Selatan juga punya proyek serupa, seiring dengan cita-cita Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mendongkrak produksi ikan dalam negeri hingga 350 persen tahun 2015.

    Ini berarti produksi patin akan kian berlimpah dan petani menghadapi tantangan yang semakin berat. Akankah masa keemasan patin di Jambi terulang kembali, atau hanya jadi cerita masa lalu?(Irma Tambunan)


    [You must be registered and logged in to see this image.]

    sumber : kompas

      Waktu sekarang 11/12/16, 03:19 am