DESA TANGKIT BARU

Terima kasih anda telah berkunjung di forum " Desa Tangkit Baru " silahkan melakukan registrasi atau masuk menggunakan akun facebook.

Keuntungan registrasi :
~ Anda bisa berkomentar.
~ Membuat topik dan membalas topik.
~ Melihat video dan gambar.
~ Dan tanya jawab

Salam fada idi`
Cucu Fetta Fuang
DESA TANGKIT BARU

AMAN KOMPAK TERTIP INDAH PRODUKTIF

Photobucket Photobucket Photobucket

google+

TAITA WETTUWE

TANGGLA’ IYEWE ULENGNGE

Powered by Forum TangkitBaru

    Ponpes Raudhatul Muhajirin

    Share

    Cucu Fetta Fuang
    Admin

    Jumlah posting : 234
    Bergabung : 24.06.12
    Umur : 31
    Lokasi : Tangkit baru, jambi, indonesia

    Ponpes Raudhatul Muhajirin

    Post  Cucu Fetta Fuang on 20/07/12, 01:29 pm

    Hari itu, Kamis (10/10) siang, benar-benar menjadi hari bahagia bagi masyarakat Kampung Tangkit Baru Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muara Jambi, Jambi. Terlebih-lebih para santri dan pengasuh serta para pengajar Pondok Pesantren Raudhatul Muhajirin.

    Apa gerangan yang membuat mereka bersuka cita pada hari itu? Tak lain, karena Menteri Kelautan dan Perikanan DR Rokhmin Dahuri, Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin, Gubernur Gorontalo Ir H Fadel Muhammad dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah H Rully A Lamadjido SH hadir di tengah-tenah mereka.

    Tak semata hadir, para pejabat itu pun 'merogoh' kocek mereka, memberikan sebagian harta mereka guna menambah sarana pendidikan yang selama ini dirasakan tak memadai lagi menampung jumlah santri yang ada.

    Adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri yang memprakarsai bantuan tersebut. Setelah memberikan sambutan, ia menyatakan kesediaan untuk menyumbang sebesar Rp 50 juta bagi perluasan sarana pendidikan di lingkungan Ponpes Raudhatul Muhajirin. Menteri asal keluarga nelayan ini tak hanya menyumbangkan sebagian rizkinya, tapi juga bersedia melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung madrasah yang membutuhkan dana lebih dari Rp 200 juta tersebut.

    Setelah sang menteri, giliran Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin yang juga menyatakan kesiapannya untuk membantu penyelesaian gedung madrasah. Gubernur yang berasal dari keluarga pedagang ini menyatakan kesanggupan memberikan sumbangan sebesar Rp 50 juta. Lalu menyusul dari Gubernur Gorontalo sebesar Rp 10 juta dan dari pejabat lainnya yang hadir pada acara peresmian peletakan batu pertama tersebut.

    Ketika memberikan sambutan di hadapan ratusan umat Islam di Jambi itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, DR Rokhmin Dahuri menyatakan, umat Islam harus memperhatikan empat hal yang sangat penting dibutuhkan saat ini. Keempat hal tersebut, pertama adalah masalah akidah.

    Rokhmin menyebutkan mengenai akidah ini janganlah sampai membuat generasi muda memilikisplit personality (kepribadian terbelah). "Umat kita ini banyak. Hampir 85 persen dari penduduk Indonesia mengaku Muslim, tetapi yang shalat tak lebih dari 10 persen. Repotnya lagi, dari 10 persen yang shalat itu, ternyata hanya ada 20 persen yang shalatnya benar-benar khasyi'un (khusyuk, red)," keluh Rokhmin.

    Kedua masalah ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Untuk bisa hidup dengan baik di muka bumi ini, papar pria kelahiran Cirebon Jawa Barat ini, mau tidak mau iptek harus dikuasai oleh umat Islam. "Iptek harus dikuasai demi tercapainya kesejahteraan hidup umat Islam di dunia ini," tegas Rokhmin.

    Masalah ketiga, adalah ekonomi dan perdagangan. Rokhmin merasa risih dengan adanya anggapan sekelompok umat Islam dan juga para tokohnya yang menyatakan soal ekonomi dan perdagangan itu bukanlah porsi Islam. Padahal, papar Rokhmin, Rasulullah SAW sudah menjadi contoh yang sangat nyata. "Rasul itu kan jelas-jelas sebagai pedagang yang berhasil karena itu ia kemudian diminta untuk menjadi suami Khadidjah," jelas Rokhmin.

    Masalah keempat yang juga harus diperhatikan umat Islam pada masa-masa sekarang ini adalah ukhuwah (persaudaraan). "Umat Islam haruslah solid. Rasulullah SAW telah menggambarkan, umat Islam itu bagaimana sebuah tubuh. Jika salah satu bagian sakit, maka yang lainnya pun ikut merasakan sakit. Ketika ada saudaranya di bagian daerah lain yang terkena musibah, maka sudah sepantasnya saudaranya yang lain ikut merasakan musibah yang dialami umat Islam tersebut. Ukhuwah ini sungguh sangat penting saat-saat sekarang," papar Rokhmin.

    Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin mengingatkan, guna membantu pendanaan masyarakat di sekitar pondok pesantren, pihaknya bersedia memberikan jalan keluar bagi pengembangan ternak ikan patin yang memang sekarang ini menjadi primadona masyarakat Jambi. Ia sendiri menuturkan, awalnya di daerah Jambi dikembangkan usaha pertanian nanas. Mengingat belakangan hasilnya kurang memadai, karena itu diubah untuk dikembangkan usaha ternak ikan patin.

    "Kebetulan ikan patin ini tahan banting. Dengan kondisi air yang PH-nya sangat rendah yakni sekitar 3,5, ikan patin masih tahan hidup. Karena itu, kami akan mendukung bila masyarakat di sini akan mengembangkan usaha ternak ikan patin. Diharapkan dengan demikian, bisa membiayai anak-anaknya yang nyantri di pondok pesantren Raudhatul Muhajirin," ujarnya seraya menambahkan, semoga kalangan pesantren dapat membiayai segala aktivitas pesantren dengan usaha ternak ikan.

    Bermula dari Ladang Nanas

    Drs H Andi Sanisuyu selaku salah seorang pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Muhajirin mengungkapkan, latar belakang berdirinya Ponpes Raudhatul Muhajirin ialah ketika tahun 1968 seorang warga Sulawesi Selatan yang berhijrah ke Jambi.

    Syeikh Muhammad Said bin Muhammad Yunus (Fuang Muhammad), nama pendatang itu, beserta rombongan tiba di Jambi dan membuka lahan pertanian nanas seluas 1500 hektar di Kampung Baru Tangkit sekitar 10 km dari pusat kota Jambi atas bantuan pemda setempat.

    Setelah menetap lebih kurang delapan tahun di sana, tepatnya tahun 1976 Syeikh Muhammad memprakarsai dibentuknya suatu lembaga pendidikan yang berorientasi ke Islam dengan jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah. Atas prakarsanya juga, madrasah itu kemudian diberi nama Raudlatul Muhajirin.

    Proses belajarnya sendiri waktu itu masih berlangsung di langgar (mushalla). Itu karena masyarakat waktu itu belum mampu membangun sarana yang permanen. Setahun kemudian, dibuka pula sekolah lanjutan tingkat pertama yakni Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun.

    Setelah beberapa tahun berjalan, atas dukungan masyarakat sekitar akhirnya berhasil dibangun sebuah gedung madrasah semi permanen yang terdiri dari enam lokal dengan luas bangunan seluruhnya 432 m2. Tahun 1988, pendidikan di lingkungan ponpes Raudhatul Muhajirin pun semakin berkembang, setelah Madrasah Aliyah dibentuk.

    Andi mengungkapkan, setiap tahun jumlah siswa yang belajar semakin bertambah. Namun, mengingat kondisi fisik madrasah saat ini mengalami kerusakan yang cukup parah serta adanya keterbasan fasilitas, maka tak semua siswa dapat tertampung di ponpes yang letaknya persis di pinggir jalan raya tersebut.

    "Jumlah siswa yang belajar saat ini, pada tingkat ibtidaiyah sebanyak 110 siswa, tingkat Tsanawiyah sebanyak 54 siswa dan tingkat aliyah ada 45 siswa. Pada umumnya siswa yang belajar di ponpes Raudhatul Muhajirin berasal dari Tangkit Baru dan sekitarnya serta beberapa siswa berasal dari kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur," jelas Andi menambahkan.

      Waktu sekarang 05/12/16, 07:28 pm