DESA TANGKIT BARU

Terima kasih anda telah berkunjung di forum " Desa Tangkit Baru " silahkan melakukan registrasi atau masuk menggunakan akun facebook.

Keuntungan registrasi :
~ Anda bisa berkomentar.
~ Membuat topik dan membalas topik.
~ Melihat video dan gambar.
~ Dan tanya jawab

Salam fada idi`
Cucu Fetta Fuang
DESA TANGKIT BARU

AMAN KOMPAK TERTIP INDAH PRODUKTIF

Photobucket Photobucket Photobucket

google+

TAITA WETTUWE

TANGGLA’ IYEWE ULENGNGE

Powered by Forum TangkitBaru

    SEJARAH BAJU BODO ( WAJU TOKKO' )

    Share

    Cucu Fetta Fuang
    Admin

    Jumlah posting: 230
    Bergabung: 24.06.12
    Umur: 28
    Lokasi: Tangkit baru, jambi, indonesia

    SEJARAH BAJU BODO ( WAJU TOKKO' )

    Post  Cucu Fetta Fuang on 16/11/12, 10:02 am






    Sejarah Baju Bodo adalah pakaian tradisional perempuan
    Makassar. Dalam suku Bugis baju ini disebut Waju
    Tokko. Baju Bodo berbentuk segi empat, biasanya
    berlengan pendek, yaitu setengah atas bagian siku
    lengan. Dalam bahasa Makassar, kata “Bodo” berarti
    pendek. Baju Bodo atau Waju Tokko, sudah dikenal oleh
    masyarakat Sulawesi Selatan sejak pertengahan abad
    IX (pen), hal ini diperkuat dari sejarah kain Muslin, kain
    yang digunakan sebagai bahan dasar Baju Bodo itu
    sendiri. Kain Muslin adalah lembaran kain hasil tenunan
    dari pilinan kapas yang dijalin dengan benang katun. Memiliki rongga dan kerapatan benang yang renggang
    menjadikan kain Muslin sangat cocok untuk daerah
    tropis dan daerah beriklim kering. Kain Muslin (Eropa) atau Maisolos (Yunani Kuno), Masalia
    (India Timur) dan Ruhm (Arab), tercatat pertama kali
    dibuat dan diperdagangkan di kota Dhaka, Bangladesh,
    hal ini merujuk pada catatan seorang pedagang Arab
    bernama Sulaiman pada abad IX. Sementara Marco Polo
    pada tahun 1298 Masehi, dalam bukunya The Travel of Marco Polo, menjelaskan bahwa kain Muslin itu dibuat di
    Mosul (Irak) dan dijual oleh pedagang yang disebut
    “Musolini”. Uniknya, masyarakat Sulawesi Selatan
    sudah lebih dulu mengenal dan mengenakan jenis kain
    ini dibanding masyarakat Eropa, yang baru
    mengenalnya pada abad XVII dan baru populer di Perancis pada abad XVIII. Dalam Festival Busana Nusantara 2007 di Kuta – Bali,
    perancang busana kenamaan Oscar Lawalata
    menegaskan bahwa “Baju Bodo itu adalah salah satu
    baju tertua di dunia dan dunia internasional belum
    mengetahuinya.” Pada awal munculnya, Baju Bodo/Waju Tokko, tidaklah
    lebih dari baju tipis dan longgar sebagaimana karakter
    kain Muslin. Tampilannya masih transparan sehingga
    masih menampakkan payudara, pusar dan lekuk tubuh
    pemakainya. Hal ini diperkuat oleh James Brooke dalam
    bukunya Narrative of Events, sebagaimana dikutip oleh Christian Pelras dalam Manusia Bugis, yang
    mengatakan: “Perempuan [Bugis] mengenakan pakaian
    sederhana… Sehelai sarung [menutupi pinggang] hingga
    kaki dan baju tipis longgar dari kain Muslin (kasa),
    memperlihatkan payudara dan leluk-lekuk dada. Pada awal abad ke-19, Don Lopez comte de Paris,
    seorang pembantu setia Gubernur Jenderal Deandels
    memperkenalkan penutup dada yang dalam bahasa
    Indonesia disebut “Kutang” pada perempuan Jawa,
    namun sayang kutang ini belum populer di tanah Bugis-
    Makassar. Sehingga tidak janggal jika pada tahun 1930-an, masih banyak ditemui perempuan Bugis-
    Makassar memakai Baju Bodo/Waju Tokko tanpa
    memakai penutup dada. Masuknya Islam dan Munculnya Baju La’bu Meski ajaran agama Islam sudah mulai menyebar dan
    dipelajari oleh masyarakat di Sulawesi sejak abad ke-5,
    namun secara resmi baru diterima sebagai agama
    kerajaan pada abad ke-17. Pergerakan DII/TII di Sulawesi juga berpengaruh besar
    pada perkembangan Baju Bodo saat itu. Ketatnya
    larangan kegiatan dan pesta adat oleh DII/TII, membuat
    Baju Bodo menjadi asing dikalangan masyarakat
    Sulawesi Selatan. Larangan ini muncul mengingat penerapan syariat
    Islam yang diusung oleh pergerakan DII/TII. Tak pelak,
    pelarangan ini menjadi isu besar dikalangan para
    pelaku adat dan agamawan. Dalam ajaran agama Islam
    ditegaskan bahwa, pakaian yang dibenarkan adalah
    pakaian yang menutup aurat, tidak menampakkan lekuk tubuh dan rona kulit selain telapak tangan dan
    wajah. Kontroversi ini kemudian disikapi bijak oleh
    kerajaan Gowa, hingga muncullah modifikasi baju bodo
    yang dikenal dengan nama Baju La’bu (serupa dengan
    Baju Bodo, tetapi lebih tebal, gombrang, panjang hingga
    lutut) Perlahan, Baju Bodo/Waju Tokko yang semula tipis
    berubah menjadi lebih tebal dan terkesan kaku. Jika
    pada awalnya memakai kain muslin, berikutnya baju ini
    dibuat dengan bahan benang sutera. Bagi golongan agamawan, adanya Baju La’bu ini
    adalah solusi terbaik, tidak melanggar hukum Islam dan
    juga tidak menghilangkan nilai adat. Warna dan Arti Menurut adat Bugis, setiap warna Waju Tokko yang
    dipakai oleh perempuan Bugis menunjukkan usia
    ataupun martabat pemakainya. Anak dibawah 10 tahun memakai Waju Tokko yang
    disebut Waju Pella-Pella (kupu-kupu), berwarna kuning
    gading (maridi) sebagai pengambaran terhadap dunia
    anak kecil yang penuh keriangan. Warna ini adalah
    analogi agar sang anak cepat matang dalam
    menghadapi tantangan hidup. Umur 10-14 tahun memakai Waju Tokko berwarna
    jingga atau merah muda. Warna merah muda dalam
    bahasa Bugis disebut Bakko, adalah representasi dari
    kata Bakkaa, yang berarti setengah matang. Umur 14-17 tahun, masih memakai Waju Tokko
    berwarna jingga atau merah muda, tapi dibuat
    berlapis/ bersusun dua, hal ini dikarenakan sang gadis sudah mulai tumbuh payudaranya. Juga dipakai
    oleh mereka yang sudah menikah tapi belum memiliki
    anak. Umur 17-25 tahun memakai Waju Tokko berwarna
    merah darah, berlapis/ bersusun. Dipakai oleh
    perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak,
    berasal dari filosofi, bahwa sang perempuan tadi
    dianggap sudah mengeluarkan darah dari rahimnya
    yang berwarna merah. Umur 25-40 tahun memakai Waju Tokko berwarna
    hitam. Waju Tokko berwarna putih digunakan oleh para inang/
    pengasuh raja atau para dukun atau bissu. Para bissu
    memiliki titisan darah berwarna putih, inilah yang
    mengantarkan mereka mampu menjadi penghubung
    dengan Botting Langi (khayangan), peretiwi (dunia
    nyata), dan ale kawa(dunia roh). Mereka dipercaya tidak memiliki alat kelamin, sehingga terlepas dari
    kepentingan syahwat. Para putri raja, bangsawan dan keturunannya yang
    dalam bahasa Bugis disebut maddara takku (berdarah
    bangsawan) memakai Waju Tokko berwarna hijau.
    Dalam bahasa Bugis, warna hijau disebut kudara, yang
    berasal dari kata na-takku dara-na, yang secara harfiah
    berarti “mereka yang menjunjung tinggi harkat kebangsawananny a.” Waju Tokko berwarna ungu dipakai oleh para janda.
    Dalam bahasa Bugis, warna ungu disebut kemummu
    yang juga dapat berarti lebamnya bagian tubuh yang
    terkena pukulan atau benturan benda keras. Dalam
    pranata sosial masyarakat Bugis jaman dahulu,
    menikah dengan seorang janda merupakan sebuah aib. Cara Pakai dan Aksesoris Cara memakai Baju Bodo/Waju Tokko sangat mudah,
    layaknya seperti memakai t-shirt. Baju Bodo/Waju
    Tokko dikenakan dengan menggunakan bawahan
    Lipa’ Sa’be (sarung sutera) yang bermotif kotak-
    kotak cerah. Lipa’ Sa’be dipakai seperti memakai
    sarung yang kadang diperkuat dengan tali atau ikat pinggang agar tidak melorot. Pada bagian pinggang, Baju Bodo/Waju Tokko dibiarkan
    menjuntai menutupi ujung sarung bagian atas. Si
    pemakai biasanya memegang salah satu ujung baju
    bodo lalu disampirkan di lengan. Sebagai aksesoris, ditambahkan kalung, gelang
    panjang, anting, dan bando atau tusuk konde di kepala.
    Ada pula yang menambahkan bunga sebagai penghias
    di rambut. Selain untuk acara adat seperti upacara pernikahan,
    Baju Bodo/Waju Tokko saat ini juga dipakai untuk
    menyambut tamu agung dan acara lainnya seperti
    menari. Sumber: http:// id.wikipedia.org / —

      Waktu sekarang 20/09/14, 08:57 pm